Artikel ini akan menyajikan contoh soal-soal UTS Fisika Kelas 11 Semester 1 beserta pembahasan mendalamnya. Tujuannya adalah untuk membantu siswa memahami tipe-tipe soal yang mungkin dihadapi, strategi penyelesaiannya, serta konsep fisika yang mendasarinya.
Kerangka Artikel:
Pendahuluan:
- Pentingnya UTS Fisika Kelas 11 Semester 1.
- Gambaran umum materi yang akan dibahas.
- Tujuan artikel.
-
Bagian 1: Termodinamika
- Konsep Dasar: Hukum Termodinamika, Kalor, Usaha, Energi Dalam.
- Contoh Soal 1: Perhitungan Kalor dan Perubahan Suhu.
- Pembahasan Soal 1.
- Contoh Soal 2: Usaha pada Proses Termodinamika (Isotermal, Isobarik, Isokhorik, Adiabatik).
- Pembahasan Soal 2.
- Contoh Soal 3: Penerapan Hukum II Termodinamika (Mesin Kalor).
- Pembahasan Soal 3.
-
Bagian 2: Gelombang Mekanik
- Konsep Dasar: Jenis Gelombang, Cepat Rambat Gelombang, Energi Gelombang.
- Contoh Soal 4: Menghitung Cepat Rambat Gelombang.
- Pembahasan Soal 4.
- Contoh Soal 5: Hubungan Frekuensi, Panjang Gelombang, dan Cepat Rambat.
- Pembahasan Soal 5.
-
Bagian 3: Gelombang Bunyi
- Konsep Dasar: Sumber Bunyi, Intensitas Bunyi, Taraf Intensitas Bunyi, Efek Doppler.
- Contoh Soal 6: Menghitung Intensitas dan Taraf Intensitas Bunyi.
- Pembahasan Soal 6.
- Contoh Soal 7: Penerapan Efek Doppler.
- Pembahasan Soal 7.
-
Bagian 4: Optik Geometri
- Konsep Dasar: Pemantulan Cahaya, Pembiasan Cahaya, Lensa Cembung dan Cekung, Cermin Datar, Cembung, dan Cekung.
- Contoh Soal 8: Perhitungan Jarak Bayangan pada Lensa.
- Pembahasan Soal 8.
- Contoh Soal 9: Perhitungan Jarak Bayangan pada Cermin.
- Pembahasan Soal 9.
- Contoh Soal 10: Pemantulan Cahaya pada Bidang Datar.
- Pembahasan Soal 10.
-
Tips Menghadapi UTS Fisika:
- Pahami konsep dasar.
- Latihan soal secara rutin.
- Perhatikan satuan.
- Gunakan rumus yang tepat.
- Manajemen waktu saat ujian.
-
Penutup:
- Pentingnya belajar berkelanjutan.
- Ucapan semangat.
Pendahuluan
Ujian Tengah Semester (UTS) Fisika Kelas 11 Semester 1 merupakan tolok ukur penting bagi para siswa untuk mengevaluasi sejauh mana pemahaman mereka terhadap materi yang telah diajarkan di paruh pertama semester. Fisika, sebagai ilmu yang mempelajari alam semesta dari skala terkecil hingga terbesar, memerlukan pemahaman konsep yang kuat serta kemampuan untuk menerapkannya dalam penyelesaian masalah.
Materi yang umumnya diujikan pada UTS Fisika Kelas 11 Semester 1 meliputi tiga topik utama yang saling berkaitan dan fundamental dalam fisika: Termodinamika, yang membahas tentang energi, kalor, usaha, dan hukum-hukum yang mengaturnya; Gelombang Mekanik, yang mengkaji perambatan gangguan melalui medium; dan Optik Geometri, yang mempelajari tentang cahaya dan interaksinya dengan berbagai alat optik melalui pendekatan geometris.
Artikel ini dirancang untuk menjadi panduan komprehensif bagi siswa dalam mempersiapkan diri menghadapi UTS. Kami akan menyajikan serangkaian contoh soal yang mencakup berbagai tingkatan kesulitan dan cakupan materi, disertai dengan pembahasan yang rinci dan langkah demi langkah. Tujuannya bukan hanya untuk memberikan jawaban, tetapi juga untuk menanamkan pemahaman yang mendalam tentang prinsip-prinsip fisika yang mendasari setiap soal, serta strategi efektif untuk memecahkan masalah serupa di masa mendatang. Dengan memahami contoh soal dan pembahasannya, diharapkan siswa dapat meningkatkan kepercayaan diri dan meraih hasil yang optimal dalam UTS mereka.
Bagian 1: Termodinamika
Termodinamika adalah cabang fisika yang mempelajari hubungan antara panas, usaha, dan energi. Memahami konsep-konsep dasarnya sangat krusial, termasuk hukum-hukum termodinamika, pengertian kalor, usaha yang dilakukan oleh sistem, dan energi dalam.
Konsep Dasar Termodinamika
-
Kalor (Q): Energi yang berpindah karena perbedaan suhu. Satuannya dalam SI adalah Joule (J), namun sering juga menggunakan kalori (kal).
- $Q = mcDelta T$ (untuk perubahan suhu tanpa perubahan fasa)
- $Q = mL$ (untuk perubahan fasa pada suhu tetap)
di mana: - $m$ = massa (kg)
- $c$ = kalor jenis (J/kg°C atau kal/g°C)
- $Delta T$ = perubahan suhu (°C)
- $L$ = kalor laten (J/kg atau kal/g)
-
Usaha (W): Energi yang ditransfer ketika gaya bekerja pada suatu objek dan memindahkannya. Dalam termodinamika, usaha seringkali terkait dengan perubahan volume gas.
- $W = PDelta V$ (untuk proses isobarik, tekanan konstan)
- Untuk proses lain, usahanya dihitung dengan luas di bawah kurva pada diagram P-V.
-
Energi Dalam (U): Energi total yang dimiliki oleh suatu sistem akibat gerakan dan interaksi molekul-molekulnya. Perubahan energi dalam hanya bergantung pada keadaan awal dan akhir sistem, bukan pada prosesnya.
- $Delta U = Q – W$ (Hukum I Termodinamika)
-
Hukum I Termodinamika: Menyatakan bahwa energi bersifat kekal. Perubahan energi dalam suatu sistem sama dengan selisih antara kalor yang diserap sistem dan usaha yang dilakukan oleh sistem.
-
Hukum II Termodinamika: Menjelaskan arah aliran kalor alami dan batasan efisiensi mesin kalor. Ada beberapa formulasi, salah satunya menyatakan bahwa tidak mungkin membangun mesin yang bekerja dalam satu siklus yang menyerap kalor dari satu reservoir dan mengubah seluruhnya menjadi usaha.
Contoh Soal 1: Perhitungan Kalor dan Perubahan Suhu
Sebanyak 2 kg air memiliki suhu awal 20°C. Jika kalor jenis air adalah 4200 J/kg°C, berapakah jumlah kalor yang dibutuhkan untuk menaikkan suhu air menjadi 80°C?
Pembahasan Soal 1:
Untuk menyelesaikan soal ini, kita perlu menggunakan rumus kalor untuk perubahan suhu tanpa perubahan fasa.
Diketahui:
- Massa air ($m$) = 2 kg
- Suhu awal ($T_1$) = 20°C
- Suhu akhir ($T_2$) = 80°C
- Perubahan suhu ($Delta T$) = $T_2 – T_1$ = 80°C – 20°C = 60°C
- Kalor jenis air ($c$) = 4200 J/kg°C
Rumus yang digunakan adalah:
$Q = mcDelta T$
Substitusikan nilai-nilai yang diketahui ke dalam rumus:
$Q = (2 text kg) times (4200 text J/kg°C) times (60 text°C)$
$Q = 8400 text J/°C times 60 text°C$
$Q = 504000 text J$
Jadi, jumlah kalor yang dibutuhkan untuk menaikkan suhu air adalah 504.000 Joule.
Contoh Soal 2: Usaha pada Proses Termodinamika
Sebuah gas ideal mengalami proses pemampatan isobarik pada tekanan 2 x 10⁵ Pa. Volume awal gas adalah 0,5 m³ dan volume akhirnya menjadi 0,2 m³. Berapakah usaha yang dilakukan oleh gas tersebut?
Pembahasan Soal 2:
Soal ini melibatkan perhitungan usaha pada proses isobarik, yaitu proses yang berlangsung pada tekanan konstan.
Diketahui:
- Tekanan ($P$) = 2 x 10⁵ Pa
- Volume awal ($V_1$) = 0,5 m³
- Volume akhir ($V_2$) = 0,2 m³
Karena prosesnya adalah pemampatan, volume gas berkurang, yang berarti usaha yang dilakukan oleh gas akan bernilai negatif (atau usaha yang dilakukan pada gas bernilai positif).
Rumus usaha pada proses isobarik adalah:
$W = PDelta V$
$W = P(V_2 – V_1)$
Substitusikan nilai-nilai yang diketahui:
$W = (2 times 10^5 text Pa) times (0,2 text m^3 – 0,5 text m^3)$
$W = (2 times 10^5 text Pa) times (-0,3 text m^3)$
$W = -0,6 times 10^5 text J$
$W = -60000 text J$
Jadi, usaha yang dilakukan oleh gas tersebut adalah -60.000 Joule. Tanda negatif menunjukkan bahwa sistem (gas) kehilangan energi dalam bentuk usaha yang dilakukan pada sistem, atau sistem melakukan usaha negatif. Jika ditanya usaha yang dilakukan pada gas, maka jawabannya adalah 60.000 J.
Contoh Soal 3: Penerapan Hukum II Termodinamika (Mesin Kalor)
Sebuah mesin kalor beroperasi antara reservoir suhu tinggi 600 K dan reservoir suhu rendah 300 K. Jika mesin menyerap kalor 1200 J dari reservoir suhu tinggi, berapakah efisiensi maksimum yang mungkin dicapai oleh mesin tersebut dan berapakah usaha yang dihasilkan?
Pembahasan Soal 3:
Soal ini berkaitan dengan efisiensi maksimum mesin kalor, yang dapat dihitung menggunakan efisiensi Carnot.
Diketahui:
- Suhu reservoir tinggi ($T_H$) = 600 K
- Suhu reservoir rendah ($T_L$) = 300 K
- Kalor yang diserap dari reservoir tinggi ($Q_H$) = 1200 J
Langkah 1: Menghitung efisiensi maksimum (efisiensi Carnot).
Rumus efisiensi Carnot ($etaCarnot$) adalah:
$etaCarnot = 1 – fracT_LT_H$
Substitusikan nilai suhu:
$etaCarnot = 1 – frac300 text K600 text K$
$etaCarnot = 1 – 0,5$
$eta_Carnot = 0,5$
Dalam bentuk persentase, efisiensi maksimumnya adalah 50%.
Langkah 2: Menghitung usaha yang dihasilkan.
Efisiensi juga dapat diartikan sebagai perbandingan usaha yang dihasilkan ($W$) terhadap kalor yang diserap dari reservoir suhu tinggi ($Q_H$):
$eta = fracWQ_H$
Karena kita mencari usaha yang dihasilkan pada efisiensi maksimum, kita gunakan $etaCarnot$:
$W = etaCarnot times Q_H$
Substitusikan nilai efisiensi dan kalor yang diserap:
$W = 0,5 times 1200 text J$
$W = 600 text J$
Jadi, efisiensi maksimum yang mungkin dicapai oleh mesin tersebut adalah 50%, dan usaha yang dihasilkan adalah 600 Joule.
Bagian 2: Gelombang Mekanik
Gelombang mekanik adalah gangguan yang merambat melalui medium dengan membawa energi. Materi ini mencakup jenis-jenis gelombang, cepat rambatnya, serta energi yang dibawanya.
Konsep Dasar Gelombang Mekanik
-
Jenis Gelombang:
- Gelombang Transversal: Arah getaran partikel medium tegak lurus terhadap arah rambat gelombang (contoh: gelombang pada tali, gelombang cahaya).
- Gelombang Longitudinal: Arah getaran partikel medium sejajar dengan arah rambat gelombang (contoh: gelombang bunyi, gelombang pada pegas).
-
Besaran Gelombang:
- Amplitudo (A): Simpangan maksimum gelombang dari posisi setimbang.
- Panjang Gelombang ($lambda$): Jarak antara dua titik yang berurutan pada gelombang yang memiliki fase sama.
- Frekuensi (f): Jumlah getaran atau gelombang yang terjadi dalam satu detik. Satuan Hertz (Hz).
- Periode (T): Waktu yang dibutuhkan untuk satu gelombang lengkap. $T = 1/f$.
- Cepat Rambat Gelombang (v): Jarak yang ditempuh gelombang per satuan waktu.
- $v = lambda f$
- $v = fraclambdaT$
-
Energi Gelombang: Energi yang dibawa oleh gelombang, umumnya sebanding dengan kuadrat amplitudo dan kuadrat frekuensi.
Contoh Soal 4: Menghitung Cepat Rambat Gelombang
Sebuah gelombang pada tali memiliki panjang gelombang 0,5 meter dan frekuensi 10 Hz. Berapakah cepat rambat gelombang tersebut?
Pembahasan Soal 4:
Soal ini adalah aplikasi langsung dari rumus cepat rambat gelombang.
Diketahui:
- Panjang gelombang ($lambda$) = 0,5 m
- Frekuensi ($f$) = 10 Hz
Rumus cepat rambat gelombang adalah:
$v = lambda f$
Substitusikan nilai-nilai yang diketahui:
$v = (0,5 text m) times (10 text Hz)$
$v = 5 text m/s$
Jadi, cepat rambat gelombang pada tali tersebut adalah 5 m/s.
Contoh Soal 5: Hubungan Frekuensi, Panjang Gelombang, dan Cepat Rambat
Seutas tali digetarkan sehingga menghasilkan gelombang transversal. Gelombang tersebut merambat sepanjang tali dengan kecepatan 8 m/s. Jika panjang gelombang yang dihasilkan adalah 2 meter, berapakah periode gelombang tersebut?
Pembahasan Soal 5:
Soal ini meminta kita untuk mencari periode setelah mengetahui cepat rambat dan panjang gelombang. Kita perlu mencari frekuensi terlebih dahulu.
Diketahui:
- Cepat rambat gelombang ($v$) = 8 m/s
- Panjang gelombang ($lambda$) = 2 m
Langkah 1: Menghitung frekuensi ($f$).
Kita gunakan rumus cepat rambat gelombang:
$v = lambda f$
Susun ulang rumus untuk mencari $f$:
$f = fracvlambda$
Substitusikan nilai-nilai yang diketahui:
$f = frac8 text m/s2 text m$
$f = 4 text Hz$
Langkah 2: Menghitung periode ($T$).
Periode adalah kebalikan dari frekuensi:
$T = frac1f$
Substitusikan nilai frekuensi yang telah dihitung:
$T = frac14 text Hz$
$T = 0,25 text s$
Jadi, periode gelombang tersebut adalah 0,25 detik.
Bagian 3: Gelombang Bunyi
Gelombang bunyi adalah gelombang longitudinal yang dapat merambat melalui medium padat, cair, dan gas. Materi ini mencakup intensitas, taraf intensitas, dan efek Doppler.
Konsep Dasar Gelombang Bunyi
-
Intensitas Bunyi (I): Daya gelombang bunyi per satuan luas. Satuan Watt per meter persegi (W/m²).
- $I = fracPA$
- $I propto frac1r^2$ (intensitas berbanding terbalik dengan kuadrat jarak dari sumber)
-
Taraf Intensitas Bunyi (TI): Skala logaritmik untuk mengukur kenyaringan bunyi, dibandingkan dengan intensitas ambang pendengaran.
- $TI = 10 log_10 left(fracII_0right)$
- $I_0$ = intensitas ambang pendengaran = 10⁻¹² W/m²
-
Perubahan Taraf Intensitas karena Jarak:
- $TI_2 – TI1 = 20 log10 left(fracr_1r_2right)$
-
Efek Doppler: Perubahan frekuensi gelombang yang diterima oleh pengamat akibat adanya gerakan relatif antara sumber bunyi dan pengamat.
- $f_p = f_s left(fracv pm v_pv mp v_sright)$
- $f_p$ = frekuensi yang didengar pendengar
- $f_s$ = frekuensi sumber bunyi
- $v$ = cepat rambat bunyi di udara (sekitar 340 m/s)
- $v_p$ = kecepatan pendengar
- $v_s$ = kecepatan sumber bunyi
- Tanda (+) pada $v_p$ jika pendengar mendekati sumber, (-) jika menjauhi.
- Tanda (-) pada $v_s$ jika sumber mendekati pendengar, (+) jika menjauhi.
Contoh Soal 6: Menghitung Intensitas dan Taraf Intensitas Bunyi
Sebuah sumber bunyi memancarkan daya 0,01 Watt secara seragam ke segala arah. Berapakah intensitas bunyi pada jarak 5 meter dari sumber? Jika intensitas ambang pendengaran adalah 10⁻¹² W/m², berapakah taraf intensitasnya?
Pembahasan Soal 6:
Soal ini mengharuskan kita menghitung intensitas bunyi pada jarak tertentu, kemudian menghitung taraf intensitasnya.
Diketahui:
- Daya sumber bunyi ($P$) = 0,01 Watt
- Jarak dari sumber ($r$) = 5 meter
- Intensitas ambang pendengaran ($I_0$) = 10⁻¹² W/m²
Langkah 1: Menghitung intensitas bunyi ($I$).
Karena sumber memancarkan daya secara seragam ke segala arah, kita menganggapnya sebagai sumber titik yang memancarkan energi melalui luas permukaan bola. Luas permukaan bola dengan jari-jari $r$ adalah $A = 4pi r^2$.
Rumus intensitas:
$I = fracPA = fracP4pi r^2$
Substitusikan nilai-nilai yang diketahui:
$I = frac0,01 text Watt4pi (5 text m)^2$
$I = frac0,01 text Watt4pi (25 text m^2)$
$I = frac0,01 text Watt100pi text m^2$
$I approx frac0,01314,16 text W/m^2$
$I approx 3,18 times 10^-5 text W/m^2$
Jadi, intensitas bunyi pada jarak 5 meter adalah sekitar 3,18 x 10⁻⁵ W/m².
Langkah 2: Menghitung taraf intensitas bunyi ($TI$).
Rumus taraf intensitas:
$TI = 10 log_10 left(fracII_0right)$
Substitusikan nilai $I$ dan $I0$:
$TI = 10 log10 left(frac3,18 times 10^-5 text W/m^210^-12 text W/m^2right)$
$TI = 10 log_10 (3,18 times 10^7)$
Menggunakan kalkulator logaritma: $log_10 (3,18 times 10^7) approx 7,502$.
$TI approx 10 times 7,502$
$TI approx 75,02 text dB$
Jadi, taraf intensitas bunyi pada jarak 5 meter adalah sekitar 75,02 desibel (dB).
Contoh Soal 7: Penerapan Efek Doppler
Sebuah mobil ambulans bergerak mendekati seorang pengamat yang diam di pinggir jalan dengan kecepatan 30 m/s. Jika sirene ambulans mengeluarkan bunyi dengan frekuensi 500 Hz dan cepat rambat bunyi di udara adalah 340 m/s, berapakah frekuensi bunyi sirene yang didengar oleh pengamat?
Pembahasan Soal 7:
Soal ini adalah aplikasi langsung dari efek Doppler.
Diketahui:
- Kecepatan sumber bunyi (ambulans) ($v_s$) = 30 m/s (mendekati pengamat)
- Frekuensi sumber bunyi ($f_s$) = 500 Hz
- Cepat rambat bunyi di udara ($v$) = 340 m/s
- Kecepatan pendengar ($v_p$) = 0 m/s (diam)
Karena ambulans mendekati pengamat, kita menggunakan tanda negatif pada $v_s$ dalam rumus efek Doppler.
Rumus efek Doppler:
$f_p = f_s left(fracv pm v_pv mp v_sright)$
Karena $v_p = 0$, rumus menjadi:
$f_p = f_s left(fracvv – v_sright)$
Substitusikan nilai-nilai yang diketahui:
$f_p = 500 text Hz left(frac340 text m/s340 text m/s – 30 text m/sright)$
$f_p = 500 text Hz left(frac340 text m/s310 text m/sright)$
$f_p = 500 text Hz times frac340310$
$f_p approx 500 text Hz times 1,09677$
$f_p approx 548,39 text Hz$
Jadi, frekuensi bunyi sirene yang didengar oleh pengamat adalah sekitar 548,39 Hz. Frekuensi yang didengar lebih tinggi dari frekuensi sumber, sesuai dengan efek Doppler saat sumber mendekati pendengar.
Bagian 4: Optik Geometri
Optik geometri mempelajari cahaya sebagai sinar dan menganalisis pembentukan bayangan oleh cermin dan lensa menggunakan prinsip geometri.
Konsep Dasar Optik Geometri
-
Pemantulan Cahaya: Terjadi ketika cahaya mengenai permukaan benda dan memantul kembali. Hukum pemantulan: sudut datang sama dengan sudut pantul.
-
Pembiasan Cahaya: Terjadi ketika cahaya melewati dua medium yang berbeda kerapatan optiknya, sehingga arah rambatnya berubah. Hukum Snellius: $n_1 sin theta_1 = n_2 sin theta_2$.
-
Cermin:
- Cermin Datar: Bayangan tegak, sama besar, dan sama jauh di belakang cermin.
- Cermin Cekung (Konkaf): Dapat membentuk bayangan nyata atau maya, terbalik atau tegak, diperbesar atau diperkecil, tergantung posisi benda.
- Cermin Cembung (Konveks): Selalu membentuk bayangan maya, tegak, dan diperkecil.
- Rumus umum cermin: $frac1f = frac1s + frac1s’$ dan $M = frach’h = -fracs’s$
- $f$: jarak fokus (positif untuk cermin cekung, negatif untuk cermin cembung)
- $s$: jarak benda
- $s’$: jarak bayangan (positif untuk bayangan nyata, negatif untuk bayangan maya)
- $M$: perbesaran
- $h’$: tinggi bayangan
- $h$: tinggi benda
-
Lensa:
- Lensa Cembung (Konvergen): Mengumpulkan sinar cahaya. Dapat membentuk bayangan nyata atau maya.
- Lensa Cekung (Divergen): Menyebarkan sinar cahaya. Selalu membentuk bayangan maya, tegak, dan diperkecil.
- Rumus umum lensa: $frac1f = frac1s + frac1s’$ dan $M = frach’h = -fracs’s$
- $f$: jarak fokus (positif untuk lensa cembung, negatif untuk lensa cekung)
- $s$: jarak benda
- $s’$: jarak bayangan (positif untuk bayangan nyata, negatif untuk bayangan maya)
Contoh Soal 8: Perhitungan Jarak Bayangan pada Lensa
Sebuah benda diletakkan 20 cm di depan lensa cembung yang memiliki jarak fokus 15 cm. Tentukan jarak bayangan dan sifat bayangan yang terbentuk.
Pembahasan Soal 8:
Soal ini menggunakan rumus lensa untuk menentukan posisi dan sifat bayangan.
Diketahui:
- Jarak benda ($s$) = 20 cm
- Jarak fokus lensa cembung ($f$) = +15 cm (positif karena lensa cembung)
Rumus lensa:
$frac1f = frac1s + frac1s’$
Kita ingin mencari jarak bayangan ($s’$). Susun ulang rumus:
$frac1s’ = frac1f – frac1s$
Substitusikan nilai-nilai yang diketahui:
$frac1s’ = frac115 text cm – frac120 text cm$
Samakan penyebutnya (KPK dari 15 dan 20 adalah 60):
$frac1s’ = frac460 text cm – frac360 text cm$
$frac1s’ = frac160 text cm$
Maka, jarak bayangan ($s’$):
$s’ = 60 text cm$
Karena $s’$ bernilai positif, bayangan yang terbentuk adalah bayangan nyata.
Untuk menentukan sifat bayangan selanjutnya (tegak/terbalik, diperbesar/diperkecil), kita hitung perbesaran ($M$):
$M = -fracs’s$
$M = -frac60 text cm20 text cm$
$M = -3$
Tanda negatif pada $M$ menunjukkan bahwa bayangan terbalik. Nilai $|M| = 3$ menunjukkan bahwa bayangan diperbesar 3 kali.
Jadi, jarak bayangan adalah 60 cm di depan lensa. Sifat bayangannya adalah nyata, terbalik, dan diperbesar 3 kali.
Contoh Soal 9: Perhitungan Jarak Bayangan pada Cermin
Sebuah benda setinggi 4 cm diletakkan 10 cm di depan cermin cekung yang memiliki jari-jari kelengkungan 30 cm. Tentukan jarak bayangan, tinggi bayangan, dan sifat bayangan yang terbentuk.
Pembahasan Soal 9:
Soal ini melibatkan cermin cekung dan meminta perhitungan jarak bayangan, tinggi bayangan, serta sifat bayangan.
Diketahui:
- Tinggi benda ($h$) = 4 cm
- Jarak benda ($s$) = 10 cm
- Jari-jari kelengkungan cermin cekung ($R$) = 30 cm
Pertama, tentukan jarak fokus cermin. Jarak fokus cermin adalah setengah dari jari-jari kelengkungannya.
Jarak fokus cermin cekung ($f$) = $R/2$ = 30 cm / 2 = 15 cm.
Karena cermin cekung, jarak fokusnya positif ($f = +15$ cm).
Langkah 1: Menghitung jarak bayangan ($s’$).
Rumus cermin:
$frac1f = frac1s + frac1s’$
Susun ulang untuk mencari $s’$:
$frac1s’ = frac1f – frac1s$
$frac1s’ = frac115 text cm – frac110 text cm$
Samakan penyebutnya (KPK dari 15 dan 10 adalah 30):
$frac1s’ = frac230 text cm – frac330 text cm$
$frac1s’ = -frac130 text cm$
Maka, jarak bayangan ($s’$):
$s’ = -30 text cm$
Karena $s’$ bernilai negatif, bayangan yang terbentuk adalah bayangan maya.
Langkah 2: Menghitung tinggi bayangan ($h’$).
Rumus perbesaran:
$M = frach’h = -fracs’s$
Kita bisa gunakan bagian $h’/h = -s’/s$:
$frach’4 text cm = -frac-30 text cm10 text cm$
$frach’4 text cm = -(-3)$
$frach’4 text cm = 3$
$h’ = 3 times 4 text cm$
$h’ = 12 text cm$
Tanda positif pada $h’$ menunjukkan bahwa bayangan tegak. Nilai 12 cm menunjukkan tinggi bayangan.
Untuk perbesaran ($M$):
$M = -fracs’s = -frac-3010 = 3$.
Karena $|M|=3$, bayangan diperbesar 3 kali.
Jadi, jarak bayangan adalah 30 cm di belakang cermin. Tinggi bayangan adalah 12 cm. Sifat bayangannya adalah maya, tegak, dan diperbesar 3 kali.
Contoh Soal 10: Pemantulan Cahaya pada Bidang Datar
Seberkas sinar datang membentuk sudut 30° terhadap garis normal pada permukaan cermin datar. Berapakah sudut pantulnya?
Pembahasan Soal 10:
Soal ini berkaitan dengan hukum pemantulan cahaya pada cermin datar.
Diketahui:
- Sudut datang ($theta_i$) = 30° (sudut antara sinar datang dan garis normal)
Hukum pemantulan menyatakan bahwa sudut datang sama dengan sudut pantul.
$theta_i = theta_r$
Karena sudut datang adalah 30°, maka sudut pantulnya juga 30°.
Jadi, sudut pantulnya adalah 30°.
Tips Menghadapi UTS Fisika
Mempersiapkan diri untuk UTS Fisika memerlukan strategi yang matang. Berikut adalah beberapa tips yang dapat membantu Anda:
- Pahami Konsep Dasar dengan Kuat: Jangan hanya menghafal rumus. Usahakan untuk benar-benar memahami arti dari setiap konsep fisika, mengapa rumus itu ada, dan bagaimana ia bekerja dalam berbagai situasi. Visualisasikan fenomena fisika jika memungkinkan.
- Latihan Soal Secara Rutin: Kunci utama untuk menguasai fisika adalah dengan banyak berlatih. Kerjakan soal-soal dari buku teks, buku latihan, maupun contoh-contoh soal yang diberikan guru. Mulailah dari soal yang mudah, lalu tingkatkan ke soal yang lebih menantang.
- Perhatikan Satuan dan Dimensi: Kesalahan dalam satuan adalah penyebab umum jawaban yang salah. Selalu perhatikan satuan dari setiap besaran fisika yang diberikan dan pastikan satuan yang Anda gunakan dalam perhitungan konsisten dan sesuai dengan satuan yang diminta pada jawaban akhir.
- Gunakan Rumus yang Tepat dan Pahami Notasi: Hafalkan rumus-rumus penting untuk setiap topik. Pahami arti dari setiap simbol dalam rumus (misalnya, $f$ bisa berarti frekuensi atau fokus, jadi konteks sangat penting). Gunakan rumus yang sesuai dengan kondisi soal (misalnya, proses termodinamika yang berbeda memerlukan rumus usaha yang berbeda).
- Buat Catatan dan Ringkasan: Merangkum materi per bab dalam bentuk catatan atau mind map dapat membantu Anda mengorganisir informasi dan mengingat poin-poin penting.
- Manajemen Waktu Saat Ujian: Saat ujian, baca soal dengan cermat terlebih dahulu. Kerjakan soal yang Anda kuasai terlebih dahulu untuk mengamankan poin. Jika Anda kesulitan dengan suatu soal, jangan terlalu lama terpaku padanya; lanjutkan ke soal berikutnya dan kembali lagi jika ada waktu.
- Gunakan Kalkulator dengan Bijak: Jika diperbolehkan, gunakan kalkulator untuk perhitungan numerik, tetapi pastikan Anda tahu cara menggunakannya dengan benar, terutama untuk fungsi logaritma atau akar kuadrat.
- Diskusi dan Bertanya: Jika ada materi atau soal yang tidak Anda pahami, jangan ragu untuk bertanya kepada guru atau teman yang lebih paham. Diskusi dapat membuka wawasan baru.
Penutup
Materi Fisika Kelas 11 Semester 1, meliputi termodinamika, gelombang, dan optik, merupakan fondasi penting dalam pemahaman fisika lanjutan. Melalui contoh soal dan pembahasan yang telah disajikan, diharapkan siswa mendapatkan gambaran yang lebih jelas mengenai tipe-tipe soal yang mungkin dihadapi dalam UTS dan bagaimana cara menyelesaikannya.
Penting untuk diingat bahwa belajar fisika adalah sebuah proses berkelanjutan. Penguasaan materi tidak hanya bergantung pada saat menghadapi ujian, tetapi juga pada pemahaman konsep secara mendalam dan latihan yang konsisten. Gunakanlah contoh-contoh ini sebagai titik awal untuk eksplorasi lebih lanjut. Teruslah berlatih, bertanya, dan jangan pernah menyerah dalam memahami keindahan dan logika fisika.
Semoga artikel ini bermanfaat dan memberikan bekal yang berharga bagi Anda dalam menghadapi Ujian Tengah Semester Fisika. Selamat belajar dan semoga sukses!

